Rabu, 23 Oktober 2019

[Pada ketidakmungkinan]

Aku mecintaimu bagai batu mengalir di hilir
arus menghanyutkan; tak gentar perjuangan
lantunan syair dari ikan kecil temani kesepian
dahan pohon yang gugur disepanjang aliran

Aku mencintaimu bagai teduhnya hutan
seperti rekah jamur pada kelembapan
pepohonan rindang seperti tumpuan kehidupan
atau sang raja hutan mati akibat disembah rakyatnya

Aku mencintaimu bagai luas daratan
aspal nan bersaing ketinggian pada pertokoan
udara bersitegang akibat jadi rebutan hirupan
kaum pinggiran mati tak bisa menghidupi mimpi

Isi kepala seketika meledak sebuah tanya
segala ketidakmungkinan penuhi kehidupan
dianggap mati berani! anak tiri disudahi
apa perbedaan justru dianggap kebutuhan?
Entah sampai kapan keajaiban!?

Subur dibiar gugur melebur
sebaliknya, mati junjung sampai nanti.
O maha Penghidupan,
apa jalan dan kehendak-Mu selanjutnya?

Lalu cinta terlanjur kandas usia
apa lebur lagi si nestapa dengan derita?
pertanyaan akan sama untukmu, Nona.

— mesinketik

📷: Google
Jarak bukan sekadar hitungan angka.
Sebab 564 kilometer dapat menjadi begitu
jauh, jika seseorang di sana, tak pernah
memberi respons positif setiap kali kita
menawarkannya sebuah pertemuan.

Namun 564 kilometer bisa menjadi
begitu dekat, jika seseorang di sana,
telah memberi semacam sinyal,
bahwa ia teramat menantikan pertemuan.

Jarak bukan sekadar hitungan angka,
ia pun melibatkan hitungan rasa.

—Ars
#Arstories
[Lukisan Dirimu di Langit]

Aku ingat betul tiap inchi dari raut wajahmu, bagaimana kerut di pipimu itu terbentuk di kala kau tersenyum, warna kelam di bawah kelopak matamu itu, lengkungan bulu mata yang indah, dan setiap rasa yang tersirat di baliknya.

Aku juga masih ingat bagaimana caramu berfikir, caramu berintonasi, caramu berjalan, dan bagaimana caramu mencintaiku. Semuanya terekam jelas layaknya film dokumenter sejarah yang meninggalkan rasa perih. Aku ingat bagaimana diri ini tak pernah menyerah untuk memperjuangkanmu.

Tapi mau bagaimana lagi? Realita tak sesuai ekspektasi. Kita pernah bersama dan bersanding begitu kuat, namun sekarang semuanya rasanya mendung. Langit rasanya lupa untuk menambahkan warna kuning dan birunya. Semuanya terasa kelabu, sendu, dan aku yang rindu.

Dulu kita meratapi langit dan mentari berduaan. Mencoba menunjuk-nunjuk kesana kemari perihal bentuk apa yang terlintas ketika melihatnya. Namun sekarang aku tak bisa berimajinasi lagi, karena tiap kali aku melihat langit, ia melukiskan dirimu di sana.

Entah kamu dimana, dengan siapa, baik-baik saja atau tidak, bahagia atau engga, aku sering menitipkan doaku pada langit. Karena antara kau dan aku berada di bawah langit yang sama, cuman kali ini perasaan kita yang tak lagi sama.

ー Detra
#detrathoughts
Dan aku masih mengingatnya, kawan
Saat laskar rakyat berpulang ke rumahnya
Mereka dulu duduk di atapnya berselesa
Pekik suara dan panji-panji sakral dikobarkan
Memohon sekali lagi untuk janji yang tertunda

Selepas itu pun tiada yang benar-benar tahu
Kapan keadilan yang katanya murah harganya
Bisa dimiliki mereka yang beratapkan langit merah
Dan para muda bestari yang tak henti-hentinya
Memurnikan niat demi masa depan bangsa

Agen-agen perubahan yang teramat tangguh
Wajah mereka terlukis pada bendera-bendera
Yang tengah membentangkan sayap dwiwarnanya
Di sekolah-sekolah, kantor-kantor, dan trotoar jalan

Kini alarm demokrasi berbunyi, mereka pun menanggapi
Satu per satu mereka maju, langit pun ikut jadi saksi
Tujuh tuntutan yang dilaungkan pada nara-nara tuli
Tukang sampah, buruh tani, juru berita, ikut mengamini

Aku bergetar melihat bendera itu lagi, kawan
Seorang pemuda membentangkannya kuat-kuat
Di depan kisi-kisi pagar Taman Kanak-Kanak itu
Ia dan seribu pemuda lainnya hendak berpulang
Meski mata sudah sayu dan kaki nyaris roboh
Begitu meriah sambutannya, para penjaga pun
Tak segan-segan meludahi gegap gempitanya
Dan bendera itu dengan beratus liter tembakan air
Seolah melupakan kobaran api di tanah seberang

Kawan, kita sudah berjuang sehormat-hormatnya
Dan tak diterima di rumah, bagai gelandangan
Lalu, di mana lagi kita akan berpulang?

— Lintang Punarbawa
#Nozdorevelation
[Sebuah Usaha Melupa]

Lucu bila diingat, dulu kita bisa dekat nyaris terikat
Saat ini, jangankan erat, saling menautkan mata saja sudah tak mampu kita lakukan sebab takut sekarat
Nadi dan kita dulu seperti tak ada bedanya
Hari ini jauhnya melebihi ratusan purnama yang tertutupi awan gelap nan gulita
Jauh, jauh sekali
Sesekali hanya mampu aku lihat kabarmu pada laman media sosialmu
Lantas kabarku? Tidak pernah aku tahu apakah kini menjadi yang paling kamu tunggu atau justru tidak lagi terlintas di hari-harimu
Dua manusia yang sempat saling bertukar rasa, pada akhirnya kembali seperti saat pertama belum berjumpa
Tidak saling menyapa, tidak ada lagi tukar cerita
Dulu ikrarnya akan tetap berteman seperti sedia kala
Namun hati siapa yang bisa menduga
Belum sembuh, jika harus dipaksakan untuk saling bercengkerama, bukankah hanya menjadikannya kambuh?
Maka atas nama ingin pulih, dijalaninya terseok maupun tertatih
Sebab sekali saja menyapa, runtuhlah dunia
Berlebihan kiranya kau mengira, namun yang dirasakan memang begitu adanya

— pemintalkata
hutan digunduli
rakyat di provokasi
mahasiswa turun aksi
kembali ke zaman reformasi

kebebasan diperketat
yang keblabasan malah dipercepat
ini bukan tontonan pelepas penat
tapi menyadarkan para pengkhianat

negara ini milik bersama
tapi penguasa yang seenaknya
jika tidak ada kita-kita
kau bisa apa

kekuasaan bukan tolak ukur
sampai urusan selangkangan saja diatur
kalian itu cocoknya hanya tidur
sekalinya kerja malah ngelantur

kasihan ibu pertiwi
diperkosa anak sendiri
cakapnya saja mengabdi
tapi sikapnya bak pencuri

Indonesia

berduka

atau

bercanda


— beruangbetina
#dandelion
"Tuhan Maha Tidak Romantis." tegasku.
Secercah harapan, sebongkah kebaikan, dan segumpal kasih untuk kita
Kerap kali secara gamblang dibungkusNya dengan kertas minyak yang usang dan tak layak pakai.
Kertas itu tak ada mengilapnya.
Apalagi berpendar.
Tak ada romantisnya.

Persetan dengan bintang gemerlapan di malam ini!
Sebuah asteroid utusan neraka terbakar di atmosfer
Jatuh. Menghujam ke kedalaman hatiku.
Membawa kabar beraroma bangkai,
Titipan 666 pasukan malaikat pertama.

Melalui kacamata kita,
Seketika telah aku lihat
Ledakan supernova di palung kekosongan jiwa terkelam.

Atas ketetapanNya, yang Maha Pembolak-balik Hati manusia
Apakah Tuhan sebercanda ini?.

Maafkan aku yang arogan!
Dengan sumpah serapah Aku mengutuki malam ini.
Karena, tak mampu mengambing-hitamkan Tuhan.

[Kepada Semesta, terima kasih telah menciptakan tarian seperti ini.]